HAK-HAK ISTERI PASCA PERCERAIAN

Maret 31, 2010 at 10:12 am Tinggalkan komentar

Sebagai sebuah aturan yang berkaitan dengan tata hidup berkeluarga bagi umat Islam, konsep perceraian (atau nama lain sesuai bangsa yang memakainya) yang disebutkan dalam formulasi hukum di berbagai nagara muslim diadopsi dari konsep talak yang terdapat dalam fikih. Kata talak sendiri juga diadopsi ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa Arab lengkap dengan makna dan berbagai aspek yang dikandungnya. Secara etimologi, kata talak (al-thalâq; الطلاق) dalam bahasa Arabnya, seperti disebutkan Ibn Manzhur,[1] berarti: tidak ada ikatan atasnya dan meninggalkan (لا قَيْد عليها وكذلك الخلَّية). Ia juga berarti menghilangkan ikatan dan meninggalkan (إزالة القيد والتخلية).[2] Ia merupakan lafal yang telah digunakan oleh masyarakat Arab Jahiliyyah dengan makna dan maksud yang sama. Kemudian ketika agama Islam datang, lafal itu tetap digunakan sebagaimana adanya.[3]

Secara terminologis, rata-rata ulama menyebutkan substansi talak tersebut sebagai tindakan melepaskan ikatan pernikahan, baik dalam bentuk pelepasan yang masih memungkinkan untuk rujuk (talak raj’iy) maupun pelepasan yang tidak punya peluang untuk rujuk sama sekali (talak bâ`in), dengan lafal-lafal yang ditentukan, baik menggunakan lafal sharîh maupun lafal kinâyaħ, sehingga antara kedua orang tersebut tidak dihalalkan lagi untuk bersenang-senang.[4]Selain berakibat hilangnya kehalalan bersenang-senang, talak sendiri juga menimbulkan berbagai akibat hukum lain. Misalnya, idah dan hak nafkah bagi si isteri, hak rujuk bagi suami, dan sebagainya. Di antara dasar pemberlakukan talak dan berbagai akibat hukumnya ini terdapat dalam surat al-Baqaraħ [2] ayat 228, sebagai berikut:

والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء ولا يحل لهن أن يكتمن ما خلق الله في أرحامهن إن كن يؤمن بالله واليوم الآخر وبعولتهن أحق بردهن في ذلك إن أرادوا إصلاحا ولهن مثل الذي عليهن بالمعروف وللرجال عليهن درجة والله عزيز حكيم
Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Sebagai sebuah tindakan hukum, talak menimbulkan berbagai akibat hukum berupa hak dan kewajiban bagi para pihak yang terkait dengan pernikahan tersebut, baik bagi mantan suami, mantan isteri, maupun anak-anak mereka. Dari berbagai hak dan kewajiban yang muncul tersebut, dalam bahasan ini secara sederhana hanya akan dibahas hak kebendaan yang dimiliki isteri sebagai akibat dari perceraian, yaitu hak mahar, hak nafkah (nafkah idah), hak waris, dan hak mut’ah.

[1] Muhammad bin Mukram bin Manzhur, Lisan al-‘Arab, (Beirut: Dar al-Ihya` al-Turats al-‘Arabiy, 1992), cet. Ke-2, Jilid 8, h. 188
[2] Ali bin Muhammad al-Jurjaniy, Kitab al-Ta’rifat, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998), cet. Ke-3, h. 141. Lihat juga: Muhammad Ruwas Qal’ahjiy dan Hamid Shadiq Qinyabiy, Mu’jam Lughaħ al-Fuqahâ`, ‘Arabiy-Ingliziy Divorce Repudiction, (Riyadh: Dar al-Nafa`is, 1988), h. 281. Secara etimologi, ia digunakan untuk “melepaskan ikatan secara hissiy“, namun ‘urf mengkhususkan pengertiannya pada “melepaskan ikatan secara ma’nawiy”. Wahbah al-Zuhayliy (selanjutnya disebut al-Zuhayliy), al-Fiqh al-Islâmiy wa Adillatuh, (Damaskus, Dâr al-Fikr, 1989), cet. Ke-3, Jilid 7, h. 356
[3] Muhammad bin Isma’il al-Shan’aniy, Subul al-Salam, (Beirut: Dâr Ihya` al-Turats al-‘Arabiy, 1379 H), Juz 3, h. 168
[4] Bandingkan dengan: Al-Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1983), Juz 2, h. 206. Abdurrahman al-Jaziriy, al-Fiqħ ‘Ala Madzâħib al-Arba’aħ, (Beirut: Dar al-Fikr, 1990), Juz 4, h. 138. Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad al-Syawkaniy, Nayl al-Awthar min Ahâdîts Sayd al-Akhbâr Syarh Muntaqa al-Akhbâr, (t.tp: Idarah al-Thaba’ah al-Minbarah, t.th.), Juz 7, h. 3

Entry filed under: Fikih, Fikih Munakahat. Tags: , , .

PENGANGKATAN ANAK HAK MAHAR ISTERI PASCA PERCERAIAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Maret 2010
S S R K J S M
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Halaman

Arsip

Pengunjung

free counters

%d blogger menyukai ini: